RSS Feed

Catatan Perjalanan, Sebuah Hikmah

Posted by tata_martinis Label:


Catatan Perjalanan Menuju Utara Jakarta
Oleh: Marnarita Yarsi


Perjalanan Pertama

Aku memulai perjalan pagi , menuju utara Jakarta. Sebenarnya suamiku sudah mensponsori biaya taxi untuk perjalanan hari ini. Namun ada panggilan hati, merasa tidak ingin menang sendiri, tidak ingin nyaman sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk naik angkutan umum lain bersama mereka.

Aku memilih angkutan umum yang nyaman dan ber-AC, membeli karcis dan melebur dalam kebersamaan halte yang cukup menyiksa. Semakin lama, antrian penumpang semakin panjang. Halte yang tadinya cukup lega, menjelma menjadi sempit dan sesak, dengan pendingin ruangan yang tak nyala. Beberapa orang di sampingku telah beberapa kali, mendecak, mendesah, mengekspresikan kekesalannya telah menunggu sangat lama di sana! Lebih dari satu jam!

Tentu aku tidak akan mengeluhkan ini! Karena situasi ini, akulah yang memilihnya. Aku berusaha bersabar saja dalam antrianku yang terasa pengap. Aku melihat sekeliling dengan wajah antusias yang aku paksakan. Semua orang telah terlihat lelah. Kelelahan karena menunggu lama. Hanya satu dua orang yang masih tetap tersenyum, mentertawakan nasib kami.

Seorang perempuan kantoran, mulai mengeluarkan gerutuan karena pasti dia sudah ditinggalkan waktu. Pasti dia sudah terlambat! Untunglah nasibku tidak seperti dia. Jadwal mengajarku masih nanti siang.

Ternyata menggunakan angkutan ini, waktu menjadi semakin sulit diprediksi! Aku berfikir, ini adalah akibat dari komplikasi yang parah dalam keseimbangan penggunaan jalan raya dan penyediaan sarana transportasi umum dalam kota. Masyarakat diminta untuk menjadi pengguna angkutan umum dan tidak membawa kendaraan sendiri dalam rangka mengurangi kemacetan Jakarta. Masyarakat diminta rela saat jalanan bersama, menjadi semakin sempit karena angkutan umum itu, eksklusif jalurnya. Tapi, ternyata? Masalah tidak selesai sampai di sana.

Halte yang terlihat cukup luas tadinya, ternyata menjadi sangat sempit dan sumpek karena sudah menampung hampir seratus manusia. Ditambah dengan masalah waktu tunggu yang sangat lama. Apakah ada yang rela mengorbankan waktu dua jam mereka yang sangat berharga hanya untuk menunggu?

Akhirnya setelah satu jam setangah menunggu, (ada yang menunggu hampir dua jam) angkutan itupun datang. Manusia yang tadinya antri berdesakan sekarang spontan berdorongan. Dengan beberapa teriakan calon penumpang yang berusaha mengatasi dorongan akupun mengalir dan berhasil mendapatkan tempat duduk. Aku sengaja tidak mengambil posisi di depan. Mengapa? Karena itu adalah priority seats! Kursi yang diprioritaskan untuk lansia, wanita hamil, penyandang cacat dan Ibu yang membawa anak. Tentu pilihan tidak duduk di kursi itu, adalah sebuah siasat agar aku tidak usah berkorban bila sewaktu-waktu ada penumpang yang memenuhi kriteria priority seats. Aku menarik nafas lega di bangku yang nyaman itu sambil pura-pura lupa bahwa ada wajah-wajah pasrah yang terpaksa berdiri di sekelilingku.

Perjalanan dimulai. Akhirnya aku merasakan juga kenyamanan menggunakan angkutan umum ini. Tidak kena macet. Belum lama, saat berhenti di satu halte berikutnya? Ups! Aku menahan nafas. Seorang Ibu menggendong balitanya berusaha menyusup dalam kerumunan dan entah bagaimana, Ibu itu sudah berada di dekatku. Ada yang berbisik di hatiku, agar aku mengalah dan mengikhlaskan tempat dudukku. Namun, ada bisikan lain yang membuatku enggan untuk bergerak. Dan begitu saja tiba-tiba aku merasa mengantuk, padahal sebelumnya aku asyik di dunia maya melalui telepon genggamku. Dalam perang batin yang semakin seru, akhirnya aku benar-benar tertidur. Entah bagaimana selanjutnya nasib si Ibu yang menggendong anak itu.

Saat aku terbangun, ternyata aku sudah melewati halte tujuanku. Masih merasa resah karena terlewat, akhirnya aku turun di halte berikutnya. Menyebrangi lagi jembatan penyebrangan, dan di sepanjang langkahku, pikiranku sibuk membayangkan Ibu tadi. Ibu dengan tubuh ringkih yang menggendong anaknya. Ibu yang seharusnya duduk di Priority Seats! Ibu yang seharusnya aku silahkan di tempat dudukku. Dan pilihanku untuk tetap duduk, ternyata membuat perjalananku menjadi sedikit bertambah panjang.

Tidak ada yang terjadi kebetulan, semuanya pasti dari Allah yang Maha Mengatur. Dan Allah, maafkanlah bila ternyata aku gagal, mendapat nilai bagus dari ujian_Mu hari ini.

Perjalanan Kedua

Minggu berikutnya di perjalanan yang sama menuju utara Jakarta. Tentu aku tidak akan memilih angkutan umum yang kemarin lagi. Hampir dua jam waktuku tersia dengan kaki yang sudah tidak berkompromi lagi harus berdiri lama. Akhirnya aku bertekat bulat, naik taxi saja, sesuai fasilitas yang diberikan sang tercinta.

Begitu sebuah taxi berwarna putih sudah di depan mata, ada angkutan lain yang menggoda. Sebuah bis tua yang sedang parkir menunggu penumpang menuju utara. Ha! Ini pilihan yang bagiku menjadi sangat menantang. Berada di bawah matahari terik, menuju utara dengan sebuah bis tua yang menggunakan AC jendela. Masihkah aku sanggup? Perjalanan yang sudah tidak pernah kujalani lagi sejak lama. Perjalanan yang membuatku rindu mengulanginya lagi, bahkan bila mungkin bersama sang tercinta, seperti dulu saat pertama bersama.

Dan begitu saja, aku sudah duduk di bis itu di dekat jendela. Panas mulai menyengat terasa. Satu per satu penumpang bertambah. Setiap yang naik, pasti berwajah penuh harap mendapatkan kursi. Dan akhirnya, tepat di sebelahku, berada seorang Ibu membawa bakul, keliatannya usai berdagang makanan ringan. Tubuhnya yang besar, rapuh di makan usia. Dia tidak mendapatkan kursi dan berdiri! Tuhan?!

Batinku kembali berperang. Apakah kali ini, aku harus benar-benar mengalah dan menyuruh Ibu paruh baya itu duduk? Bagimana ya? Aku pura-pura tidak melihat wajah memelasnya dan berusaha berkonsentrasi dengan telepon genggamku. Sisi hatiku yang lain berbisik, tidak salah juga aku membiarkannya saja. Orang lain juga sama. Tidak ada yang memberinya duduk. Ah, dilema.

Perjalanan sudah terasa separuhnya. Ibu di sampingku masih tetap berdiri. Namun tiba-tiba ia merundukkan kepala, hingga kepalanya ada di dekat kepalaku. Padahal dia berdiri dan aku duduk. Aku terkejut, Ibu itu sedang mengapa? Raflek aku memeriksa mukanya dan..ya Tuhan. Ibu itu, tertidur! Tidur sambil berdiri

Akhirnya aku tidak bisa membiarkan kemanjaanku untuk tetap duduk. Aku berdiri dan mempersilahkan Ibu itu mengambil tempatku. Dengan ringan Ibu itu terkekeh, “oh, kamu mau turun?” ujarnya tanpa terimakasih. Dan sesaat setelah dia duduk, Ia pun tertidur.

Aku mengamati sekeliling. Ada beberapa pemuda – pemuda yang bersikap sepertiku tadi, tidak peduli. Mungkin mereka lelah, sehingga juga sulit untuk dapat mengalah. Mataku mampir lagi di wajah paruh baya itu yang sudah tertidur pulas, tanpa dosa tidak mengucapkan terimakasih padaku. Mungkin diapun sudah sangat lelah sehingga melupakan norma. Dan aku? Ada ruang hati yang berteriak tak rela atas sikapnya.

Ah, biarlah! Aku tidak ingin hanya mendapat nilai bagus pada ujian_Mu hari ini, Tuhan. Aku juga ingin bagus untuk nilai keikhlasan. Ternyata, tidak selalu kebaikan yang kita berikan itu dihargai dan tampak berharga bagi orang lain.

Hanya pada_Mu kuberharap,
semoga segala kebaikan
sesederhana apapun,
akan menjadi sesuatu yang berharga,
di hadapan_Mu,
dalam penilaian_Mu
Tuhanku.
Bekasi, 2 Oktober 2012
Baca Selanjutnya........ Catatan Perjalanan, Sebuah Hikmah

Kumpulan Puisi Ta'aruf saat TakdirNya Menyatukan Kita

Posted by tata_martinis Label:

rudi rusli

1. Bagi Perempuan T

Aku tak akan memujamu
bagai remaja pada cinta pertama
hanya sebentuk rasa percaya
yang sederhana: kau pendampingku
di Jakarta yang belantara.

ini hanya cukup keyakinan
tanpa bimbang, bagai masa lalu.

dan di sini, dengan terus memelihara
nuansa romantik dalam pemenungan,
kutunggu hari-hari
mematangkan keyakinan
atau takdir menulis lain
pada aliran darah kita.

perempuan T,
ini bagai rindu
tapi tak kubesarkan ia
hingga membakar:
sebab ini bukan lagi kisah remaja
pada cinta pertama.

ini cinta persembahan
hanya bagi Tuhan dan kehidupan.

Depok, 12 Februari 1998


rudi rusli

2. DI ISTIQLAL

T, tahukah: aku
sedang berjuang
mempuasakan rindu yang gelegak
mengenangmu.
:kau sedang mengapa?

T, hidup zaman ini penuh ketidakpastian
kecuali pertanyaanku yang selalu
bergelut-gelut
tentang kesudianmu
mendampingi hari-hari
mendatangku.

masa depan!
ingin kutahu rupa ujungnya.
(ah, aku memang selalu ingin tahu takdir)

atau mungkin ini
yang dinamakan
ketidaksabaran.

Istiqlal, 7 Juli 1998

#dan masa depan itu,
ternyata dipersembahkanNya
untuk kita
sayang#
Segala puji bagi Allah..



rudi rusli

3. DI SAJADAH PANJANG
: buat perempuan T

Jadikan kami satu, Tuhan
jadikan kami satu
dalam lurusMu
dalam jalanMu!

begitu banyak godaan, Tuhan
begitu banyak godaan
begitu banyak jebakan
begitu banyak setan
bergentayangan
dalam nyata dan angan.

jadikan kami bersatu
jadikan kami tenang
jadikan hanya akhirat tujuan
jadikan rahmatMu
warna hidup kami
sepanjang hari.

Tuhan,
alangkah singkat dunia
alangkah panjang jalan menuju sorgaMu.
berkahilah kami
berkahilah!

percetakan negara 2, 16 Oktober 1998



rudi rusli

4.  CERITA SAMAR ITU
: duh, perempuan T

entah bagaiman terciptanya
jalan ini jadi samar
tak jelas ujung
dan kau berkata-kata lugu
dalam makna yang semakin hilang.

inikah tarik ulur yang kau perankan
dan aku bagai meraba dalamnya lautan
dari ombak dan gelombang?

sungguh, dalam telpon aku terlalu berharap
mendengar dan mengukur suaramu
sedang dalam kata-kata suratmu
terbangun keraguan
mu
dan kekuatiran
ku.

penuh kontradiksi, T
dan polusi makna ini
perlu sangat dijauhkan
dari rongga dada kita
:aku penuh harap.

dan T,
ingin sekali
kujangkau kejernihan
dan kesegaranmu.

percetakan negara 2, 16 Oktober 1998



rudi rusli

5. SEUSAI TELPON
PAGI ITU

kini, T:
aku hanya butuh kepastian
dan sebentuk kesetiaan
dalam kebebasan kita: kau dan aku
walau di ruang yang beda.

siapatah yang diam-diam
telah menyelinapkan rasa ragu
dalam suaramu di telpon
pagi kemarin?
(hingga aku mesti menunggu jemu
dalam ketersiksaan yang dalam)

kini, T:
kutimang-timang gerangan keputusanku
dan keputusanmu
dan bertempurlah hingga bulan mendatang
rasa hati dan kerasionalan laki-lakiku.

takdir mengalir
dan aku air
di alurNya.
Insya
Allah!

Lapangan Banteng, 7 - 11 September 1998



rudi rusli

6. CATATAN DARI RANTAU
:T, inikah kanak-kanak?

akupun menyala dalam senyap dan jarak yang kau ciptakan
sepanjang jalan kembali dari rantau.  angin yang kubayangkan
menerpa halus jari-jemari tanganku, ketika lambai itu menyata:
ah utopia, kau mengelincir liat tak kukira. apa kau ragu akan
aku?
justru jika tanya itu yang tersedia: aku mesti mematut-matut diri
di cermin.  aku bukan pemburu yang kau duga.
dan tiba-tiba juga muncul rasa yang sama: kau serius?

atau ini hanya permainan kanak-kanak
sehabis lelah membacai berita kriminal,
krisis politik dan rusuh di mana-mana.

inilah angin ribut:
dan aku mencoba mencari jawab
buat seribu tanya tentangmu.
kukuatirkan wajahmu
luruh dari kenangan
perjalananku.

wahidin 2, 27 januari 1999



#sayang, maafkan Masyit-mu
saat itu
membuat kecewa...#



rudi rusli


7.  TENTANG KOSONG
(tertuju pada T)

I.
dengarlah sunyi ini, begitu pahit
dan selalu saja baunya kau kibarkan
dalam lagu-lagu malamku.


II.
tidak engkau yang sendirian terluka, adikku.
sebuah tombak telah menancap tepat
di jantungku
ketika dengan sadar kutulis kata-kata perpisahan
: seperti yang telah kita siapkan, ini semua
tanpa air mata.


III.
Allah saja yang tahu kemana akhir semua ujung
dan aku, dari kejauhan
membayangimu: doa yang baik
insya Allah kukirim untukmu selalu.

wahidin 2, 18 pebruari 1999

#hiks...untunglah Allah
akhirnya mempertemukan kita, sayang#



rudi rusli


8.  KEMBALI
kepada perempuan T


kini, kembali aku padamu
kembali padamu
setelah tersesat
dalam keruhnya
kekecewaan yang keliru.

aku ingin menyentuh
sejuk dan segarmu
saat bertemu
dan tak lagi kan jauh.

memang kubaca ragu di wajahmu
namun lihatlah aku sungguh-sungguh
: kini tak kubiarkan kesempatan ini
menjadi tersia, bahkan oleh angin
seribut apapun.

Lapangan Banteng, 24 September 1999



rudi rusli


9.  CERITA TENTANGMU
: buat T lagi


siapatah yang dulu malu-malu
mengungkapkan maksud
dan
aku kehilangan makna
dalam bahasamu.

siapatah yang dulu tenggelam
pada laut yang jauh
dan aku
kehilangan peta
menjangkau kedalamnnya.

aku pun bicara: komunikasi!
kita pun berjabat tangan
dalam percakapan damai
setelah badai
yang sunyi.

kini kita harus kembali belajar
lebih cermat tentang tanda-tanda.


Lapangan Banteng, 14 Oktober 1999



rudi rusli


10.  NOSTALGIA HARI INI


dan bernyanyilah dengan suaramu yang bisu
lupakan mimpi-mimpi yang terbang
: aku tak lagi memegang teguh harapan
hanya mengenang.

seperti yang dapat kau tebak, ini menjadi
tetes air mata yang terpendam
dan dirimu jadi bingkai yang menggantung
tak terjangkau
(tapi kau bilang: aku dekat! aku dekat!)

lupakan harapan
lupakan harapan
: apakah membuat
kita
lebih berani dengan
kenyataan?

wahidin raya, 27 maret 2000



rudi rusli

11. CERITA KITA AKHIRNYA
: dalam luka*)


barangkali aku harus akui kalah
di semua pertempuran itu
dan harapan
yang kita pendam
kita benam
dalam-dalam.

aku akan sulit melupakan
hari-hari lalu
dan wajahmu yang membayang
sepanjang kenangan.

sajak ini sajak sepi
cerita air mata dan perih.
ini sejarah
dan kita cuma
wayang-wayangnya.


suatu hari di tahun 2000
seusai kesepakatan yang emosional.
*) dalam luka, ternyata mengelirukan.



rudi rusli


12. CERITA KITA
PASKA DUKA


dan badai berlalulah!
aku penuh
tekad mengikat
mu dalam mahligai
cita-cita keluarga
sakinah.

dan duka sirnalah!
tanganku kan selalu terbuka
menyambutmu dalam
perjalanan hidup bersama
dan insya Allah
diberkahiNya.

dan senyum kita, mengembanglah!


percetakan negara 2, 21 Desember 2000

Baca Selanjutnya........ Kumpulan Puisi Ta'aruf saat TakdirNya Menyatukan Kita

Doa Istimewa

Posted by tata_martinis Label:

Do’a Istimewa
Marnarita Yarsi (Jatiwaringin)
Aku memandang wajah tua itu. Masih seperti dulu, bersemangat, ceria dan yang terpenting di setiap tuturnya adalah doa-doa untukku.  Dia menceritakan bagaimana kehidupannya sekarang yang tak jauh berbeda.  Kerja kerasnya selama ini, meniti karir sebagai pembantu rumah tangga seolah tak ada hasil.  Perempuan itu telah semakin tua, sehingga tak sanggup lagi bekerja rumah tangga.  Yang dia lakukan kini adalah memulung sehingga dia bermukim di komunitas pemulung di bilangan Bintaro.

“Saya tidak punya tempat mengadu lagi di sana,” ujarnya lirih seraya menyodorkan lembaran kertas yang berisi tagihan atas tunggakan biaya sekolah anaknya.  Aku menatapnya sejenak, seolah tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut tuanya.  “Semenjak Ibu pindah rumah, hidup saya pun luntang-lantung, tidak ada yang peduli.”  Kalimatnya meluncur bergetar.  Ada kesedihan yang berusaha dikendalikannya.  Tapi akhirnya, Ibu itupun tidak tahan untuk tidak menangis.

“Tolong saya Bu, Iwan harus melanjutkan sekolah,” pintanya di sela-sela isak tangisnya.

Iwan adalah anaknya.  Bahkan saya tidak mengenal nama Ibu tua itu, hanya mengenalnya dengan sebutan Ibu Iwan.  Empat tahun silam, saya berdomisili di Kampung Utan – Ciputat, berdekatan dengan kehidupan Iwan dan keluarganya.  Saat itu, Iwan adalah anak asuh saya.  Apapun masalah sekolahnya, atas izin Allah dapat kami atasi.  Tapi sama sekali aku tidak menduga bahwa setelah aku pindah ke Bekasi, Iwan tidak menemukan orang tua asuh yang lain.

Aku menarik nafas.  Memandang wajah tua itu yang terlihat lelah.  Tidak sedikit jarak yang ditempuhnya untuk menjumpaiku.  Dari Bintaro (provinsi Banten) ke Bekasi (provinsi Jawa Barat) melalui DKI Jakarta, luar biasa!  Demi memperjuangkan pendidikan anaknya.

“Untuk ongkos ke sini, saya meminjam uang ke tetangga, Bu.  Saya rindu sama Ibu, saya harus menyelamatkan sekolah Iwan.”  Suaranya sendu.

Aku tidak dapat berkomentar apapun.  Bila yang berada di hadapanku adalah seorang yang berpendidikan, tentu aku akan melarangnya jauh-jauh mengunjungiku .  Cukup dengan telepon, masalah bisa selesai.  Biaya yang dikeluarkannya untuk ke rumahku, sama dengan penghasilannya satu minggu. Agghh!!

Seperti biasa, aku lalu menenangkannya.  “InsyaAllah, selalu ada rejeki.  Ibu jangan khawatir, saya akan menghubungi pimpinan sekolah Iwan dan akan membantu meringankan beban ini”.

“Terimakasih Bu, terimakasih.” Mata tua itu banjir air mata.  “Allah yang membalas ya Bu, Allah yang membalas.” Lirihnya berkali-kali.  Aku hanya menatapnya haru.  Beberapa saat, aku biarkan dia terisak meluapkan perasaannya.

Peristiwa ini terjadi tahun 2010.  Akupun sudah tidak ingat kapan persisnya.  Namun suatu keajaiban besar terjadi dalam hidupku.  Di pertengahan 2011, atas izin Allah aku mendapatkan Beasiswa Unggulan dari Kemendiknas untuk melanjutkan pendidikan Strata II di Universitas Negeri Jakarta.  Jumlah beasiswa itupun jauh melebihi apa yang pernah aku beri selama ini untuk anak-anak asuhku.  Aku berpikir, ini sungguh menakjubkan, karena statusku bukanlah wanita karir yang sarat prestasi.

Ada seuntai doa yang senantiasa terngiang – ngiang di telingaku.  Doa Ibu Iwan, “Allah yang membalas ya Bu, Allah yang membalas.”

Agghhh. Bu Iwan, tahukah kamu, sekarang Allah telah mengabulkan salah satu doa’mu.  Dia telah memberi balasan istimewa untukku.  Sungguh disisi Allah, sedikit kebaikanpun tidak pernah sia-sia.
 
Baca Selanjutnya........ Doa Istimewa